• +62-542-7211353; Fax: (0542) 7211363
  • contact@kpud-penajamkab.go.id
  • Senin-Jumat 08.00-16.00 Wita

Jika Cuma Satu Calon, Pemilukada PPU Harus Diundur

PENAJAM – Suasana hiruk pikuk Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) April 2013 masih saja belum terasa panas, karena sejumlah figur calon yang diharapkan masyarakat PPU belum berani muncul terang-terangan. Melihat kondisi tersebut tentu saja membuat anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) PPU juga merasa galau. Ketua KPU PPU Andi Arfin mengatakan, bila sampai pendaftaran 15-21 Januari 2012 hanya satu pasangan calon sehingga pemilukada terancam bakal ditunda sampai memenuhi syarat minimal dua pasangan calon.

“Sisa waktu pendaftaran calon yang diusung parpol tinggal dua bulan lagi. Sementara calon independen sisa satu bulan lebih, karena desember sudah harus memasukkan surat dukungan masyarakat,” jelas Andi Arfin kepada wartawan di ruang kerjanya, Selasa (6/11)

Itu sebabnya, Andi Arfin mengaku agak galau lantaran sampai sekarang ditunggu belum ada figur yang akan maju. “Kalau sampai cuma satu calon saja, maka pemilukada ini harus diundur. Kalau diundur butuh waktu lagi, jelas anggaran akan ikut membengkak,” ucapnya dengan mimik serius.

Pihaknya menilai Pemilukada PPU 2013 ini sangat berbeda dengan 2008 silam. Di mana sebelumnya setahun sebelum tahapan pemilukada sudah bermunculan figur-figur yang akan bersaing. Sekarang jadi terbalik, belum ada figur yang menyatakan resmi akan maju kecuali H Andi Harahap calon incumbent yang kini menjabat bupati.

Selain Andi Harahap dari parpol, figur lain baru Sandra Puspa Dewi yang sudah memasang baliho besar di sejumlah tempat. Calon independen juga belum ada. Bahkan, sampai saat ini belum ada yang datang secara khusus ke Kantor Sekretariat KPU PPU minta informasi mengenai persyaratan pencalonan jalur independen.

“Belum munculnya figur yang akan bertarung dalam pemilukada 2013, karena pendaftaran secara resmi dari KPUD belum dibuka,” ujar Hendri Sutrisno selaku pengamat politik pemilukada PPU. Sehingga menurut pengamatan alumni Unmul ini, para figur masih lebih senang melakukan konsolidasi dan sosialisasi secara sembunyi-sembunyi.

“Ya, biasalah mereka saling menunggu siapa calon yang akan tampil dalam pemilukada. Padahal, di antara mereka sendiri sudah lakukan sosialisasi dan konsolidasi secara  sembunyi-sembunyi,” tutur Hendri.

Namun Hendri meyakini saat detik-detik terakhir dalam pendaftaran ke KPU PPU baru ramai calon bersama tim suksesnya berdatangan. “Coba lihat saja menit terakhir nanti pasti ada yang datang mendaftar,” katanya.

Hendri juga menilai belum memanasnya pemilukada ini karena masih didominiasi calon incumbent. Selain itu besarnya biaya pemilukada juga menjadi salah satu faktor pertimbangan para calon.

“Untuk maju baik calon bupati atau calon wabup memang perlu dana besar. Apalagi, calonnya harus pakai kendaraan parpol, tentu harus ada hitung-hitungan biaya,” katanya. Menurut Hendri lagi, inilah kenapa figur belum ada yang berani tampil. Melihat fenomena seperti ini tentu kurang sehat bagi proses pendidikan politik masyarakat.

“Padahal ini tugas bersama seluruh parpol untuk membangun proses demokrasi melalui pemilukada. Menurut pandangan kami parpol harus mampu ciptakan kader terbaik sebagai calon pemimpin masa depan,” kata Hendri. Sementara itu, Ketua Kadin PPU H Harimuddin Rasyid yang menyatakan terus terang akan maju dalam pemilukada baru menyerahkan berkas pendaftaran ke panitia PDIP.

Harimuddin mengatakan, penyerahan berkas formulir pendaftaran dipercayakan anggota tim suksesnya. “Saya sudah serahkan berkas formulir ke PDIP. Ada orang kepercayaan yang saya tugasi serahkan berkas ke PDIP. Sampai saat ini saya tinggal menunggu saja kapan PDIP lakukan wawancara dan lain sebagainya,” ujar Harimuddin.

Sebelumnya, Ketua Fraksi PDIP Hartono Basuki mengatakan pendaftaran calon ke PDIP ditutup 5 Nopember lalu setelah sebelumnya mengalami perpanjang waktu.(pam)

Sumber: Balikpapan Pos

Leave a Reply